RSS

Profil & Kisah Sukses Siti Hartati Murdaya

17 Des

Taipan Penyusur Karma

” Wanita super intens ini adalah salah satu konglomerat terpenting di Indonesia. Ia juga mengaku sebagai orang yang sekedar menjalankan karma.”

Pengusaha Siti Hartati Tjakra Murdaya adalah satu-satunya wanita Indonesia yang tercantum sebagai pengusaha nasional terkaya versi MajalahForbes tahun lalu. Dari 40 nama yang dipublikasikan majalah asing itu, dia dan suaminya, menduduki posisi ke-16. Kekayaan bersihnya diestimasikan sekitar 430 Juta Dollar (sekitar 3,9 trilyun rupiah).

Namanya pun sering muncul di media masa, karena ia memang pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Masyarakat. Apapun laporan media mengenainya, dan memang ragamnya banyak, tidak ada yang mendebat bahwa Hartarti adalah seorang pengusaha yang intens, berkerja keras, dan tidak pernah gentar untuk meraih kesempatan atau, bila perlu, berdebat atau berpolemik dengan pihak-pihak lain.

Dalam berbagai kesempatan, ia terlihat sangat sederhana dan bahkan sama sekali tidak modis. Setelan safari warna senada, atau dengan blazer batik.”Ibu memang orangnya sederhana, tidak suka neko-neko,” kata sang suami, Murdaya Poo, memberikan komentar tentang istri yang sudah dinikahinya sejak 36 tahun itu.

Memang benar, tak mudah menangkap Hartati. Ia adalah sosok pekerja keras dengan segudang aktivitas. Wanita 61 tahun ini masih mengendalikan sendiri ke-36 perusahaan yang bernaung di bawah PT Central Cipta Murdaya (dikenal dengan nama Grup Berca). Usahanya meliputi industri sepatu, konveksi, garment, kayu, mebel, kelapa sawit, kontraktor listrik, properti, hingga teknologi informasi. Belakangan, ia juga disibukkan dengan kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Hartati adalah tipe pengusaha yang sangat hands-on. Dia gemar bekerja hingga lewat tengah malam dan pulang menjelang matahari terbit. Tidak seperti banyak wanita kaya lainnya, wajah Hartarti praktis tak terlihat di arena pesta. Sang suami yang biasanya suka hadir di berbagai resepsi. Wawancara ini saja dilakukan menjelang tengah malam di tengah kegiatan sang taipan menginspeksi PRJ.

Seorang sumber di perusahaannya juga pernah cerita bagaimana Hartarti tanpa sungkan terjun langsung jadi tukang parkir darurat ketika ada salah satu problem di gedung parkir di PRJ. ” Perusahaan, seperti juga anak, adalah titipan Tuhan. Kita harus merawat dan membesarkannya secara baik. Saya percaya hukum karma. Karena itu, saya ingin selalu menanam karma baik,” katanya menerangkan mengapa ia seperti tidak pernah kehabisan enerji dalam mengurus bisnisnya.
Seluruh hidup Hartarti nampak tidak pernah jauh dari urusan bisnis. Suaminya adalah mitranya. Pertemuan pertama mereka adalah suatu pertemuan bisnis. Mentor bisnis pertamanya adalah ayahnya sendiri, ketika Hartati muda bekerja di perusahaan perkayuan.

Bersantai dan membuang waktu adalah konsep yang amat asing, bila tidak tabu, buatnya.”Every day is holiday, every day is a working day,” katanya. Bila hari Sabtu tiba, ia pasti akan merasa lega, ”Saya bisa membaca surat-surat penting, termasuk surat-surat utang, tanpa diganggu.” Memang perlu dicatat Grup Berca tidak pernah tercatat mempunyai masalah hutang, bahkan ketika Indonesia diterjang krisis moneter pada akhir dekade 1990’an.

Dengan hidup seperti ini, jelas orang bertanya bagaimana Hartarti berinteraksi dengan suaminya dalam konteks rumah tangga. Jawabannya jujur: ” Saya ini memiliki chemistry yang berseberangan dengan Bapak. Kita kan umurnya beda enam tahun. Kalau jalan, dia mau kesana, saya pasti instingnya mau kesini. Selalu gitu.”

”Kalau saya bilang ini bagus, dia pasti bilang ini jelek,” kata Hartati dengan menggebu-gebu. Anda dapat pesannya: ini bukanlah suatu rumah tangga yang konvensionil. Tapi memang, berapa banyak pasangan suami-istri yang Anda kenal yang masuk daftar Forbes?

Dan ternyata tidak hanya sekedar berseberangan. Watak Hartarti yang keras pun mewarnai hubungan mereka berdua. “Saya ini orangnya nggak mau ngalah. Saya kalau sudah merasa bener, nggak ada yang bisa suruh saya ngaku salah… Kalaupun saya merasa salah ya, saya minta maafnya diem-dieman saja. Jadi suami nggak pernah nuntut-nuntut saya harus minta maaf. Untung, Bapak orangnya ngalahan,” kata Hartarti.

Sang suami sendiri nampaknya justru menganggap sikap seperti ini sebagai daya pikat Hartarti. ” Hartati adalah wanita yang cekatan, mandiri, dan juga cantik. Cara berpikirnya nggak macam-macam, dan memiliki cara kerja yang luar biasa,” kata Murdaya Poo sambil menambahkan bahwa ia selalu tahu bahwa wanita yang ditaksirnya saat pertemuan bisnis itu juga kelak akan jadi mitranya berniaga.

“Tapi dia juga sangat keras kepala. Bila kami tak sepakat, kami selalu berkelahi. Ini terjadi setiap minggu, beberapa kali. Ha ha ha…”,” katanya menambahkan sambil tertawa geli.

Tapi ada satu kekompakan yang mengikat mereka. Ini adalah persoalan keempat anak-anaknya. Soal pendidikan, misalnya, mereka sepakat untuk mengirimkan anak-anaknya ke Amerika sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. ”Di sini ganti-ganti kurikulum, ganti menteri, ganti kebijakan. Kalau begini, kan kasihan mereka,” Hartati mengungkapkan alasannya. Kebetulan di saat bersamaan, bisnis yang dijalankannya di Amerika berlangsung mulus. Karena itu, setiap bulan ia menetap di Amerika selama sebulan, berseling dengan di Indonesia.

Ketika anak-anaknya masih kecil, pekerjaannya memang bertumpuk-tumpuk. Bayangkan saja, selain menghandel banyak perusahaannya secara hands on, ia juga memiliki jadwal harian keempat anaknya. ”Jadi saya tahu apa yang terjadi pada anak-anak saya dari jam ke jam. Kalau ada apa-apa, saya datang ke sekolahan. Ini saya lakukan hingga anak-anak SMA. Soalnya mereka sudah mulai besar dan memprotes tindakan saya,” katanya seraya tersenyum. (Keempat anak mereka kini lulus dengan nilai bagus dari berbagai universitas yang bergengsi di Amerika. Yang sulung pun sudah mulai bergabung dengan Grup Berca.)

Melihat segala kesibukan dan intensitas Hartarti, seorang Buddhis yang juga Ketua Umum Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), orang pun bertanya apa sebenarnya yang masih ingin dicari olehnya. Ia menjawab: ”Saya ini tak punya target apa-apa. Tak punya obsesi apa-apa. Apa yang bisa dikerjakan hari ini, dikerjakan hari ini. Apa yang dikerjakan besok, terserah besok. Terserah jalannya karma.”

Memang Hartati, yang juga pemilik Pondok Indah Mal (PIM) 1 & 2, tidak pernah sekali pun bercerita soal kekayaan pribadinya atau juga mengenai barang-barang mewah. Jangan tanya dia untuk menverifikasi artikel Forbes itu. Jadi mungkinkah di balik segala intensitas dan atensi yang luar biasa terhadap bisnisnya itu, Hartarti adalah seorang yang menjalankan hidup ala kadarnya, menggelinding dari saat ke saat?

Nyatanya, di ujung wawancara ini, ketika tanggal kalender sudah hampir berubah, masih ada dua tamu yang menunggu. ”Yang itu, sedang mengurus suatu agreement terkait PIM,” ia menunjuk seorang pria yang duduk di ruang tunggu. Satu staf lagi, soal PRJ, datang membawa evaluasi harian yang akan dibahas saat itu juga. Padahal, jarum jam sudah mendekati tengah malam.

Jelas, Hartarti adalah seorang pebisnis yang terlalu serius untuk menggantungkan segalanya pada faktor-faktor yang tak terhitungkan, seperti ”takdir” atau ”jalannya karma”. Tak terbantahkan, ia menikmati kesibukannya.”Saya ini semakin malam justru semakin cerah…”, katanya. Dan memang terlihat demikian. (Rustika Herlambang)

Sisi Lain Hartati Murdaya:

* Dia paling senang melakukan bakti sosial, tanpa pernah mau memublikasikan. Dia aktif di Yayasan Buddha Suci. “Jadi saya ini budha tapi lebih religius. Saya merasa ide ini baguis sekali memberi pelajaran teknis bagaimana menolong orang dibidang kesehatan, bencana alam, budaya, tapi juga bunero (seperti bank untuk orang cancer parah itu, mesti dikasih bonero). Saya mah nggak ekspose-ekspose, jalan saja. Nanti dianggap punya kepentingan, Saya mah mau ke aceh ya ke aceh, ke bantul ke bantul. Jalanin saja. Ntar dianggap ada agenda, malah mengganggu yang dituju. Mending begini saja. Jalan saja.

* Hampir segala jenis bisnis dia mau kerjakan, antara lain bisnis kayu, sepatu, sawit, mebel, hingga komputer. Bisnis yang paling dihindari adalah bisnis yang menyangkut narkoba, prostistusi, senjata, pembunuhan, minuman keras dan bisnis yang bisa menghilangkan kesadaran. Bisnis yang bertentangan dengan agama pasti nggak disentuh, seperti Alkohol. “Bisnis saya semua yang meningkatkan kesadaran semua. Misalnya kesadaran untuk pembangunan. Keuntungan spiritual kan jauh lebih penting. Kentungan spriritual kan tidak kasat mata.”

* Dia seorang vegetarian. “Saya vegetarian juga. Ini saya lakukan sejak Waktu saya kecuil, umur 14. dulu saya ikut puasa agama. Tapi dulu pernah ada kalender imleknya. Tapi sekarang daripada susah-susah, saya dari tgl 1-15, nyambung saja. Setiap hari jadi vegetarian. Tiap hari sembahyang, berdoa, daripada susah-susah tiap hari saya semabahyang saja. Tiap hari di altar ada dupa, lilin, buah sepanjang tahun. Kalau hari besar waisyak, kita menghormat kepada budha menambah bunga dan dupanya leih banyak. Hari-hari biasa. Sebenarnya ada bunga atau nggak ada bunga kan hanya ungkapan kita. Lama-lama jadi habit.”

* Rahasia awet muda. “Hehehe.. rahasia kecantikan. Cantik sih tidak ya. Tapi vegetarian itu yang makanan yang sehat. Kalau vegetarian tumbuh-tumbuhan itu cocok untuk tubuh manusia. Kalau yang daging itu adalah makhluk yang ususnya pendek seperti macan. Kalau makan daging cepet tercerna. Kalau seperti kuda, gajah, ususnya panjang, makannya serat. Manusia itu ususnya panjang, jadi cocok makan makanan tumbuhan, kulit jadi lebih seger dan halus. Kalau makan daging halus-ya halus. Cuma kering, baru usia berapa. Dari dalam itu, lebih natural.

* Motto hidup. “Sederhana. Shoping sering. Pertama, shoping itu dilandasi kebutuhan, apakah beli apa baju, kosmetik. Tapi kalau sederhana kan juga punya prinsip juga. Beli tapi ya yang ada uang. Kadang juga dibeli untuk dibagi-bagi. Saya apa-adanya,. Yang penting ngalir nggak fanatik atau ekstrim, wajar-wajar saja.”

* Tiap hari pulang pagi. “Jalan-jalan di PRJ ini kan kayak main golf 9 hole. Keliling- nongkrong-nongkrong kan olah raga. Ini bagian dari menjaga kesehatan. Capek, ya pijit, tidur, manusia kan bisa capek

* Ada 36 perusahan, bgmn menghandel perusahaan? Saya bisa berpindah dari satu persoalan satu perusahaan ke perusahaan lain dengan cepat. Saya membahasakan dengan ceplet ceplet ceplet, semudah mengganti channel televisi untuk mengganti satu persoalan dengan persoalan lain dengan sangat cepat. Harus cepet. Buat saya sekarang enak, karena sudah ada yang bantu, dulu semua saya kerjakan sendiri. Ya jadi jendral, kolonel, prajurit, kuli semua dikerjain. Sekarang semua sudah banyak,. Sekarang komando, jadi trouble shooter, pendobrak kanan kiri, lalu jadi yah mengamankan semuanya.

* Nama hartati dari Presiden Soekarno. “Hartati dapat nama dari pak Karno. Dulu orang tua saya kan tinggal di peking, trus ke indonesia jadi wartawan trus berkawan dengan Bung Karno, berjuang melawan penjajah, mereka good friend, trus ada asimilasi, saya harus ganti nama indonesia, tjoe li ieng, jadi papa saya waktu itu lagi ke jepang, trus minta tolong gimana anak saya kasih nama apa? Waktu itu umur saya belum 20 tahun harus ganti nama. Jadi harus pakai nama indonesia, papa belum pulang, trus pasukan tjakrabirawa datang ke rumah untuk memberikan nama-nama itu, karema besok nama itu sudah harus masuk. Saya tinggal di tanah abang, saya harus diurus ke pengadilan, waktu itu yang ngatur pak Gandim, ajudan bung karno, ya sudah inilah nama kita. Artinya? Saya nggak tahu. Saya dikasih nama. Saya anak pertama dari 7 bersaudara.

* Apa sih yang dicari sekarang? “Kapan saya bisa melawan diri saya sendiri, bagaimana bisa mengatasi diri sendiri, saya bisa megatasi dunia. Egoisme itu loh. Manusia kalau nggak punya ego udah nggak disini. Manusia itu egonya masih gelap buat dirinya.”

Irwan Danny Mussry
https://rustikaherlambang.wordpress.com/2008/10/28/siti-hartati-murdaya/
***

Profil Tokoh

Siti Hartati Murdaya
Mulanya Hartati mendalami agama. Untuk mengamalkannya, ia pun berbisnis. Meski dua bidang itu kerap menimbulkan persoalan pelik, ia maju terus. Mengaku kapok berpolitik, di balik kelembutannya, Hartati menyimpan segudang keberanian dan semangat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Namun, malam itu tak tampak sedikit pun gurat kelelahan dari raut wajah wanita cantik berusia 59 tahun itu. Siti Hartati Murdaya, nama wanita itu, menyapa ramah ketika Warta Ekonomi meminta waktunya untuk berbincang. Diselingi permintaan maaf berulang kali karena waktu wawancara molor dari yang telah disepakati sebelumnya, ia bertutur panjang soal kesibukannya, dan bisnisnya.

Hari itu Hartati memang kewalahan menemui banyak tamu. Ada sesama rekan bisnis, pejabat atau mantan pejabat, hingga para biksu (rohaniwan agama Buddha–Red.), baik dari dalam maupun luar negeri. “Ini memang menjadi rutinitas saya sehari-hari. Semuanya harus saya terima dengan baik,” ungkapnya, dengan senyum mengembang. Itulah konsekuensi menjadi pebisnis papan atas di negeri ini. Apalagi, selain berbisnis, Hartati juga dikenal sebagai tokoh agama Buddha.

Dari Dunia Rohani ke Bisnis
Sedari kecil kehidupan Hartati memang dekat dengan kegiatan keagamaan. Apalagi kedua orang tuanya senantiasa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada dirinya. Ketika beranjak dewasa, ia giat menggali ilmu keagamaan dari banyak biksu. “Dari sana saya punya idealisme tentang banyak hal. Misalnya, bagaimana bersikap welas asih pada sesama,” tutur Hartati, yang kini menjabat sebagai ketua umum DPP Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).

Aktivitas di bidang keagamaan menjadi awal langkah Hartati dalam menapaki dunia bisnis. Alasannya, ia ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu agamanya dalam kehidupan sehari-hari. “Tak ada gunanya kalau cuma pengetahuan tanpa perbuatan nyata. Bisnis saya anggap sebagai lahan untuk mempraktekkan ilmu agama yang saya peroleh,” ujarnya. Dengan mengusung slogan “tidak hanya memberi ikan, tetapi juga memberi kail”, Hartati pun mendirikan perusahaan, yang kini mempekerjakan 42.000-an karyawan.

Bagi wanita dengan segudang hobi, antara lain, olahraga, memasak, menjahit, dan berhias ini, dunia bisnis memang bukan barang baru. Kepiawaiannya berbisnis ia dapatkan dari orang tuanya yang pengusaha perkayuan. “Feeling” bisnisnya kian terasah ketika ia menikah dengan Murdaya Widyawimarta Poo, yang kala itu dikenal sebagai kontraktor di bidang kelistrikan.

Bersama suami tercinta yang ia nikahi 34 tahun silam itu, Hartati kian bersemangat mengembangkan bisnisnya. Setelah sukses membesarkan bisnis alat-alat listriknya dengan membangun pabrik sendiri, ia pun melebarkan usahanya ke bidang lain, seperti industri mebel, perkayuan, sepatu, hingga properti. Bisnisnya pun lama-kelamaan makin menggurita. Di bawah bendera PT Central Cipta Murdaya (CCM) yang dikomandaninya, bisnis Hartati kini kian meraksasa. Grup Berca, miliknya, kini dikenal sebagai salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air.

Mengenai hal tersebut, Hartati mengaku bahwa kesuksesannya tak lepas dari peran suami. “Saya begini juga gara-gara dia,” gelaknya. “Mungkin kalau tak ada suami, saya lebih konservatif. Apalagi pendidikan saya adalah akunting,” aku Hartati.

Tak Henti Didera Konflik
Dalam menjalankan bisnisnya, Hartati mengaku tak pilih-pilih prioritas. “Bagi saya, semua pekerjaan menuntut untuk diprioritaskan. Agar tidak stres, saya selalu berprinsip take it easy. Meski begitu, bukan berarti saya tidak serius menekuni pekerjaan tersebut,” imbuhnya.

Apakah prinsip itu dipakainya dalam penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (PRJ) baru-baru ini? “PRJ merupakan bidang baru bagi saya, dan hasilnya memberikan multiplier effect bagi banyak pihak,” urai Hartati, kini menjabat presdir PT Jakarta International Expo (JIE), perusahaan yang mengelola arena PRJ. Dengan alasan itu, kini ia mencurahkan sebagian besar energi dan waktunya untuk mengelola PRJ. Meski sebelumnya Hartati sempat terlibat konflik dengan pengelola lama saat mengambil alih hak pengelolaan PRJ, hal itu tak membuatnya mundur dari tender penyelenggaraan event tersebut. Bahkan, ketika itu, ia tak segan-segan untuk menempuh jalur hukum.

“Kami sudah telanjur masuk. Jadi, tak ada kata lain, kami harus maju terus dan menetapkan target bahwa penyelenggaraan PRJ yang kami lakukan harus lebih baik dari sebelumnya,” tegas Hartati. Untuk mencapai target itu, banyak upaya yang ia lakukan. Salah satunya adalah mempercepat perbaikan sarana dan prasarana pendukung. Hartati mengaku, untuk membeli arena PRJ ia harus mengeluarkan dana sekitar Rp1 triliun. Sementara itu, untuk renovasinya menghabiskan lebih dari Rp60 miliar.

Meski JIE terbilang pemain baru dalam bisnis pameran dan keuntungannya tergolong minim, 3%-4% dari pendapatan, Hartati berkomitmen untuk terus mengembangkan perusahaannya. Lewat JIE, ia bertekad mewujudkan ambisinya, yakni menggelar event-event bertaraf internasional. “Saya benar-benar bergairah dalam mengelola proyek ini. Bahkan seandainya rugi pun akan saya tomboki dari perusahaan-perusahaan saya yang lain,” akunya.

Semangat Hartati ini tak lepas dari target yang ingin diraihnya. “Saya ingin seperti Singapura, yang meski negaranya kecil, karena SDM-nya terlatih, pameran dan service business-nya bagus, sehingga memungkinkan banyak pihak berinteraksi, termasuk dari luar negeri. Jika ini terjadi, saya optimistis roda bisnis di Tanah Air akan kembali bergairah,” jelasnya.

Optimisme Hartati itu tergambar jelas dalam setiap langkahnya. Padahal tak jarang ia didera berbagai persoalan berat, baik saat berbisnis maupun sewaktu melakukan aktivitas keagamaan. Masih segar dalam ingatan, ketika beberapa waktu lalu ia harus menghadapi konflik internal di Walubi. Ketika itu salah satu aliran, yang juga anggota Walubi, ingin mengambil peran yang lebih besar dalam kepengurusan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, awalnya Hartati memilih jalan bernegosiasi. Namun, ketika jalur itu buntu, ia pun mengambil kebijakan yang tegas, yakni mengeluarkan aliran tersebut dari keanggotaan Walubi.

Ketegasan sikapnya ia tunjukkan pula ketika perusahaannya yang berbendera PT Intracawood Manufacturing (IM) menghadapi persoalan pelik, yakni izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH)-nya terancam dicabut oleh pemerintah. “Saya tak boleh menyerah. Selama kami menjalankan bisnis dengan cara-cara yang bersih, kami tak perlu takut menghadapi berbagai benturan. Kalau perlu, kami akan lawan lewat jalur hukum,” tegasnya.

Itulah Hartati. Di balik kelembutannya, tersimpan segudang keberanian dan semangat. Adakah ia ingin terjun lagi ke dunia politik? Dengan cepat ia menukas, “Saya tak mau lagi terjun ke dunia politik. Bikin stres. Kadang bahasanya nggak nyambung. Jika saya bicara A, B, C, tafsirannya bisa jadi D, E, F.”

Kini ia sudah bulat memilih jalur sebagai pengusaha, bukan penguasa. “Biar orang lain saja yang membuat regulasi, dan saya sebagai pelaku. Namun, kalau regulasinya tidak adil, akan saya lawan,” ujarnya berapi-api. Tampaknya, “api” Hartati memang tak kunjung padam. Jarum jam hampir menunjuk ke pukul 22.00. Namun, tak tampak tanda-tanda ia akan mengakhiri aktivitasnya hari itu. Sejumlah tamu masih menunggu untuk bertemu dengannya.(dikutip dari wartaekonomi.com)

Profil Siti Hartati Murdaya

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 29 Agustus 1946
Status : Menikah, dikaruniai empat orang anak

Riwayat Pendidikan:
– 1969: Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta Sarjana Tataniaga Universitas

Tarumanegara, Jakarta
– 1984: Executive Program for Graduate Student Stanford University, Palo Alto, California, AS
– 1985: Management for Smaller Company Program, National University of Singapore, Singapura

Riwayat Karier:
* Presiden Direktur PT Central Cipta Murdaya (holding company)
* Presiden Direktur PT Jakarta International Expo
* Ketua Umum DPP Walubi
* Dewan Kehormatan Yayasan Kemanusiaan Tzu-Chi International

http://www.fauzibowo.com/profiltokoh.php?id=148&option=view

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2012 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: